Tanggung Jawab Rakyat Terhadap Pemerintah

Tanggung Jawab Rakyat Terhadap Pemerintah

DALAM Islam terdapat peraturan-peraturan yang lengkap tentang tanggung jawab pemerintah dan juga tanggung jawab rakyat.
Peraturan serta tanggung jawab itu sudah terbukti, kalau dilaksanakan dengan betul dan sempurna membawa hasil yang sangat baik. Kebaikannya dapat dirasakan bersama oleh pemerintah, rakyat dan negara keseluruhannya. Buktinya terdapat dalam negara contoh yang telah dibangun untuk kita oleh Rasulullah dan Khulafaur Rasyidin dengan bantuan salafussoleh kira-kira 1400 tahun yang lalu.
Walaupun hal itu sudah jauh dari kita, ditinggalkan oleh zamannya, namun kalau kaedah yang dipakai itu digunakan untuk zaman ini, tentu hasil yang sama akan  diperoleh. Kaedah-kaedah selain itu, yang direka oleh manusia-manusia setelah zaman itu termasuk segala macam ideologi yang dianut hari ini ternyata belum pernah menciptakan kejayaan yang sama seperti apa yang diciptakan oleh sejarah Islam. Yaitu keamanannya, kasih sayangnya, kemakmuran, keadilan, keharmoniannya, perpaduan dan lain-lain. Yang dapat dibuat oleh mereka ialah meluaskan kekuasaan.
Satu hakikat yang patut kita sadari bahwa kejayaan umat Islam ialah jika mereka kuat dengan agamanya. Sedangkan kejayaan orang bukan Islam ialah di waktu mereka meninggalkan agamanya. Artinya, hanya agama Islam saja yang kalau diikuti betul-betul akan membawa kejayaan dunia dan Akhirat. Tetapi agama lain, karena tidak mempunyai peraturan,  kalau diikuti tidak membawa kejayaan apa-apa. Kecuali mereka meninggalkan agamanya. Yang mereka dapat hanya kemajuan dunia, di sudut materiil saja.

Tetapi perlu diingat, rakyat juga memiliki tanggung jawabnya terhadap pemerintah dan negara. Kalau rakyat lalai atau ingkar terhadap tanggung jawabnya, negara juga tidak akan selamat dan mereka akan menanggung dosanya. ALLAH SWT telah menjelaskan dalam Al Quran tentang tanggung jawab rakyat terhadap pemerintah. FirmanNya:
Wahai orang-orang yang beriman, taatlah kamu kepada ALLAH, taatlah kepada Rasul dan pemimpin di kalangan kamu. (An Nisa: 59)
Itulah tugas rakyat yang paling asas dan utama kepada pemerintahnya. Kalau terlaksana tanggung jawab itu, niscaya dengan mudah negara itu menuju kejayaannya. Sebaliknya kalau tugas itu tidak selesai, macam-macam kekusutan dan masalah akan timbul serta akan membuat negara terombang-ambing dan kocar-kacir. Bila rakyat taat dengan segala arahan dan perintah dari pemerintah yang adil, artinya segala rancangan-rancangan baik akan terlaksana dengan jayanya. Apapun proyek, rancangan, arahan dan hasrat pemerintah akan disambut oleh rakyat dengan suka rela, setia, rela berbuat dan sanggup berkorban apa saja untuk itu.
Gabungan antara dasar serta aturan yang bijaksana dan baik dengan tenaga maksimum yang dikorbankan oleh rakyat dengan penuh taat dan rela terhadap pemerintahnya akan membawa negara pada puncak kejayaan peradabannya. Dengan kata lain, kombinasi antara pemerintah dan sistem yang baik dengan rakyat yang baik akan mencetuskan kebaikan yang merata dalam masyarakat untuk dikecap oleh semua pihak. Sebaliknya tanpa rakyat yang taat, impian indah para pemerintah hanya tinggal angan-angan kosong saja. Pemerintah akan merasa dikecewakan oleh rakyatnya sendiri.
Sebab itu pemerintah mesti bersungguh-sungguh dalam mendidik rakyat agar mereka menjadi taat dan setia. Untuk itu, rasa mengasihi antara rakyat dan pemerintah mesti ditanam betul-betul. Sebab dari kasih sayang baru akan datang taat. Orang susah taat pada seseorang yang tidak dikasihinya. Sedangkan isteri yang sudah kasih pada suaminya pun belum dapat taat. Karena kasih itu didorong oleh nafsu bukan kasih murni. Apalagi rakyat, yang tidak memiliki hubungan atau ikatan apa-apa dengan pemerintah, tidak mungkin mereka dapat taat dengan mudah.
Ketaatan rakyat itu hukumnya wajib. Artinya kalau rakyat tidak taat pada pemerintah yang adil, mereka telah melakukan perkara haram yang tentunya satu kesalahan. Rakyat perlu faham, perintah taat itu bukan datang dari pemerintah. Tetapi datang dari ALLAH berdasarkan ayat Al Quran yang sudah tertulis di atas. Jadi kalau rakyat durhaka pada pemerintah, artinya mereka durhaka pada ALLAH. Kalaupun pemerintah tidak hukum, ALLAH pasti menghukumnya.
Syarat ketaatan itu ialah selagi pemerintah itu taat pada ALLAH. Sedangkan bila pemerintah sudah durhaka pada ALLAH, rakyat tidak lagi wajib taat padanya. Bahkan berdosa hukumnya memberi ketaatan pada pemerintah yang durhaka pada ALLAH. Rasulullah bersabda:
Tiada ketaatan kepada makhluk dalam soal mendurhakai ALLAH.
Pemerintah atau pemimpin yang wajib ditaati itu ada beberapa jenis, yaitu:
1.      Pemerintah negara atau negeri.
2.      Pemimpin jemaah.
3.      Ketua atau pemimpin dalam suatu bidang seperti ketua atau menteri pendidikan, ketentaraan, pertanian, ekonomi dan sebagainya.
Selain mereka, ada juga ketua-ketua kecil yang menjalankan program dari ketua umum. Selagi mereka taat menjalankan dasar negeri atau negara, jemaah atau bidang-bidang tertentu, maka mereka juga wajib ditaati.
Ada orang berkata, dia tak dapat taat pada ketua-ketua lain selain ketua satu. Orang itu sombong dengan ketua-ketua bawahan. Dia merasa tidak layak untuk tunduk pada ketua kecil-kecil. Hal itu kalau dibenarkan akan membawa perpecahan dalam masyarakat. Akan ada dua tiga ketua di satu tempat. Perpaduan dan pembangunan terancam. Sebab itu mesti memahami hal di bawah ini:
Pemimpin bawahan dilantik oleh pucuk pimpinan. Artinya pemimpin bawahan adalah wakil atau orang kepercayaan pemimpin atas. Oleh itu kalau kita tidak taat pada pemimpin yang dilantik dan dipercayainya, sama halnya seperti kita tidak taat pada pucuk pimpinan.
Ujian ketaatan adalah perkara biasa dalam perjuangan. Siapa yang selalu gagal adalah orang-orang lemah yang tidak layak untuk ikut dalam perjuangan. Bahkan mereka adalah penentang baik sadar atau tidak. Ketaatan yang dituntut oleh Islam bukan saja dalam hukum-hukum wajib dan sunat. Karena hukum yang wajib dan sunat itu kalaupun tidak disuruh oleh pemerintah, memang mesti dibuat untuk  perkara yang wajib dan elok dibuat untuk perkara yang sunat. Sebab sudah diperintahkan oleh ALLAH dan Rasul. Begitu juga larangan pemimpin yang mesti ditaati, bukan dalam soal haram dan makruh saja. Sebab yang haram dan makruh memang sudah dilarang oleh ALLAH. Walaupun pemimpin tidak melarang kita mesti menghindarkannya.
Ketaatan pada pemerintah juga mesti diberi dalam hal-hal yang mubah. Atau dalam soal-soal ijtihadul fikri yakni pendapat atau rancangan pemimpin yang mesti ditaati walaupun kita memiliki pendapat atau rancangan yang lain. Selagi rancangan pemimpin tidak bertentangan dengan ajaran Islam. Dalam Islam, kewajiban taat pada hukum-hukum yang mendatang ini disebut wajib aradhi (wajib mendatang).  Contoh-contoh perkara yang wajib ditaati oleh rakyat terhadap pemimpin, antaranya:
1.      Di waktu musuh menyerang, pemerintah mengerahkan tenaga manusia dari rakyatnya untuk memerangi musuh. Maka rakyat wajib taat. Dalam Islam, siapa yang lari dari medan perang boleh dihukum bunuh. Karena dia dianggap telah melakukan dosa besar.
2.      Di waktu kemarau, waktu darurat, waktu bencana atau waktu susah makan minum, pemerintah memerintahkan orang-orang kaya mengeluarkan bantuan baik untuk senjata, peralatan atau makanan untuk fakir miskin dan lain-lain lagi, maka mereka wajib taat. Kalau mereka enggan, pemerintah yang adil itu boleh memaksa dan merampas harta mereka yang kaya tapi bakhil itu.
3.      Kalau pemerintah sudah siapkan satu kawasan kediaman baik kampung atau kompleks pemukiman dalam rancangan memindahkan rakyat, agar rakyat beralih ke kawasan baru itu, maka rakyat wajib pindah. Kalau ingkar, mereka jatuh dosa.
4.      Rakyat yang diperintahkan menukar jabatan kerja atau tempat kerja juga wajib mentaati arahan itu.
5.      Kalau pemerintah mengarahkan penduduk satu kawasan membuat pertanian, wajib bagi mereka mengusahakan pertanian. Berdosa kalau mereka usahakan peternakan. Atau pemerintah menyuruh menanam padi, berdosa hukumnya kalau menanam jagung.
6.      suruhan kawin dan cerai, kalau terjadi, rakyat wajib taat. Kalau pilihan kita ditolak oleh ketua, maka kita juga mesti mematuhinya dan menikah dengan pilihan yang ditunjukkan. Semua hal itu kalau tidak ditaati, jatuh kepada dosa.
Demikianlah peraturan dalam Islam untuk menjayakan pemerintahan yang adil, aman, makmur dan lain-lain. Islam bukan bermaksud mengungkung kebebasan atau menafikan kebijaksanaan (kreativitas) rakyat. Biasanya pemimpin yang adil lebih adil dan terpimpin dari rakyatnya dalam memboat keputusan. Dan rakyat yang taat akan lebih terpimpin fikiran dan kreativitasnya.
Rakyat yang menentang pemerintah yang adil boleh diperangi. Hal ini pernah dibuat oleh Sayidina Abu Bakar. Yakni beliau memerangi orang-orang yang tidak mau membayar zakat. Tentunya mula-mula orang yang keras kepala ini dinasihati. Tetapi sesudah dinasihati pun masih keras kepala, maka boleh diperangi hingga mereka kembali menjadi rakyat yang taat.

sumber ; http://aribramzy.blogspot.com/2013/07/tanggung-jawab-rakyat-terhadap.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: